Peran Big Data Dalam Menghadapi Perubahan: Studi Kasus Virus Covid-19

PERAN BIG DATA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN:

Studi Kasus Virus Covid-19

MIND BLOWING.

Ketika menonton youtube, tidak terasa kita menghabiskan waktu berjam-jam karena terus menonton video yang di rekomendasikan, that’s big data. Kalian pernah dapet word suggestion ketika googling atau friend suggestion di FB? IG? Linkedin? Itu juga big data. Case lain, pernah searching suatu produk di marketplace. Namun, ketika membuka FB atau IG ada iklan barang yg pernah kita liat atau cari? that’s also how big data works. Itu hal simple yang dekat dengan kita.  Contoh lain yang lebih advance contohnya self driving car punya Tesla nya Elon Musk, itu juga big data. Contoh lainnya adalah cancer detection yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan sudah di klaim bisa menentukan yang mana sel yang kena kanker mana yang tidak. Sudah kebayang bagaimana big data?

PENGERTIAN BIG DATA

Big data adalah sekumpulan data yang amat besar dengan besar sekitar 2.5 trilliun kilo bytes penambahan data setiap harinya dan data tersebut digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan.  90% data yang ada sekarang adalah data yang terkumpul hanya 10 tahun terakhir karena zaman dahulu teknologi penyimpanan data belum secanggih sekarang. Ada pendapat bahwa data is new oil, saya setuju dengan statement ini karena di zaman ini perusahaan yang punya competitive advantage adalah yang punya data. Contohnya adalah Mark Zuckerberg yang memiliki Facebook

CARA KERJA BIG DATA

Sebelumnya, kita pasti sadar bahwa ketika kita mencari suatu produk di internet, maka yang muncul di Instagram dan Facebook ads adalah produk sejenis yang kita cari. Lalu darimanakah data yang besar itu di dapat? sadar atau tidak, segala aktivitas kita sekarang udah ditrack semua. Contohnya google. Google almosts knows everything about us. Lokasi kita kemana aja tau dari google map, agenda kita tau dari google calendar, percakapan pribadi kita tau dari email, interest kita dari google search, bahkan wajah dan orang terdekat yang disimpan di google photos. File2 pribadi ada di google drive, bahkan aktivitas di rumah google bisa tau dari google home. Creepy ga? Hehe. Setelah google tau semua data kita, google akan membuat kita semakin nyaman menggunakan servicenya, supaya data yang terkumpul semakin banyak. Setelah itu, google akan menjual data kita dalam bentuk persona. Namun, identitas kita ga akan dipublish, hanya karakter persona kita. Misal, google jual service ke traveloka supaya mereka bisa menargetkan orang-orang yang suka jalan-jalan, ke bukalapak buat orang-orang yang suka produk tertentu, dan seterusnya. Contoh lainnya facebook dan IG. Persona pengguna pasti sudah disimpan oleh pihak Facebook dan IG, dimulai dari usia, lokasi, interest, pertemanan atau follow dengan siapa, aktivitas sehari-hari, dsb nya. Kemudian pihak Facebook dan IG akan menjual persona ke pemilik produk di luar untuk ditarget sebagai pembeli.

PERKEMBANGAN DAN PELUANG BIG DATA DI INDONESIA

Bagaimana perkembangan big data itu sendiri di indonesia? industri apa yang sudah menggunakannya? Berikut artikel yang agak relevan dengan big data di Indonesia.  https://www.jawapos.com/ekonomi/bisnis/21/11/2019/pemakaian-big-data-di-indonesia-meningkat/

Menurut saya, industri pioneer di Indonesia yang menggunakan Big Data adalah banking karena mereka perlu untuk credit scoring agar dapat dengan mudah menentukan siapa yang berhak diberikan loan dan siapa yang tidak, tapi mungkin teknologi yang dipakai belum advance. Tech Company Startup semakin booming sekitar 2013, mereka ‘saling klaim’ telah menghasilkan miliaran profit dari big data. bisa cek sumbernya disini.

https://infokomputer.grid.id/read/121805513/dengan-teknologi-ai-bukalapak-mampu-tingkatkan-customer-experience
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190330085326-185-381950/tokopedia-terapkan-teknologi-kecerdasan-buatan-di-aplikasi

Perlahan tapi pasti, saya bisa melihat masa depan Big Data di Indonesia cukup cerah. Bahkan ada beberapa startup yang memang menjual produk Big Data (not only as supporting system) seperti kata.ai dan databot. Kata.ai jual service chatbot sedangkan databot lebih ke service penyimpanan data sampai ke pengambilan keputusan. Bagi teman-teman yang mau terjun di sektor ini, peluangnya masih besar. Bahkan menurut Harvard Business Review, pekerjaan yang berhubungan dengan big data termasuk ke dalam ‘sexiest job of 21st century’ , agak lebay sih. hehe

https://hbr.org/2012/10/data-scientist-the-sexiest-job-of-the-21st-century

Contoh beberapa karir yang related adalah: Data Analyst, Data Scientist, Data Engineer, AI researcher, ML Engineer, dll. Perusahaannya yang cukup advance menurut saya masih dipegang oleh tech startup, terutama yang sudah unicorn. Saat ini tech startup pun sudah luas bidangnya, bukan hanya marketplace seperti Bukalapak, Shopee, dan Tokopedia. Selain itu ada di bidang finance seperti Akulaku, Kredivo, dan Amartha. Ada juga dompet digital seperti Ovo, Dana, Gopay. Di bidang pendidikan yang sedang naik daun ada Ruangguru. Untuk bekerja di bidang Big Data, pendidikan yang lebih diutamakan adalah background science (mathematics, statistics, physics) atau engineering (computer, electrical) yang dapat memberi nilai plus. Teman saya yang berkecimpung di dunia data ada yang tadinya teknik mesin, teknik pertambangan, teknik fisika. Yang penting ada basic logical thinking yang bagus

ANCAMAN BIG DATA

Kita mulai dari yang simple, yaitu Customer service. Kalian pernah complain ke CS setelah belanja online via email? atau chat? Sekarang teknologi chatbot menggunakan big data sudah mulai diterapkan, jadi untuk persoalan yang masih basic cukup ditangan oleh bot, tidak perlu manusia. Impact nya apa? jelas menyusutnya lapangan pekerjaan yang sifatnya ‘operasional’. Kalau di CS tadi, pasti jumlah manusianya akan berkurang karena kebanyakan orang-orang yang bertanya sebatas pada pertanyaan yang itu-itu saja. Contoh lain yang lebih advance bisa di industri manufaktur untuk quality check atau courier delivery service, ini contoh videonya.

https://www.youtube.com/watch?v=R6go2E5SRd8

Bisa jadi di masa depan yang antar pesanan online bukan mamang JNE, tapi drone atau robot semacam di video itu. Jangan jadikan ini beban, manusia selalu punya competitive advantage yang tidak bisa dilakukan robot seperti berinovasi, kreatifitas, berfikir out of the box, dll. Di sisi lain, kita juga harus terus mengasah skill kita. Jangan sampai skill kita terlalu basic sehingga robot pun bisa menggantinya

BIG DATA DI ERA COVID-19

Secara garis besar beberapa implementasi Big Data adalah forecasting(prediksi masa depan, biasanya terkait waktu), image recognition (pengenalan gambar/bentuk ), pattern similarity (persamaan pola), dan lain-lain. Buat forecasting pasti temen-temen udah melihat berseliweran di medsos kurva yang memprediksi kapan covid ini akan berakhir, atau berapa jumlah korban pada hari ke-x. Pada dasarnya, forecasting membaca pola data di masa lalu, dan coba menarik trend data yang akan terjadi di masa depan. Idealnya dengan mempertimbangkan variabel-variabel yang akan mempengaruhi di masa depan.

Forecasting juga bisa digunakan untuk memprediksi bencana di masa depan, tapi yang namanya prediksi bisa bener bisa salah apalagi bencana yang faktornya banyak. Untuk image recognition, pattern similarity sudah diterapkan di china. Secara singkat, mereka melacak historical activity pasien yang sudah positif untuk melacak daerah berpotensi, lokasi, atau bahkan orang yang rawan menjadi korban berikutnya. Mereka memanfaatkan GPS dari smartphone, kamera cctv, transaksi atm, belanja offline, rute transportasi umum, dan lain-lain. Pemerintah China bisa dengan cepat melakukan intervensi demi keselamatan warganya, meskipun harus masuk ke ranah privacy dari masyarakat itu sendiri. untuk lebih detail bisa dibaca disini:

https://asumsi.co/post/haruskah-kita-memakai-big-data-untuk-menangani-wabah-covid-19

China memang terkenal dengan negara inovasi teknologi yang sangat maju, bahkan China bisa disandingkan dengan US saat ini.

TANYA JAWAB:

  1. Sebenarnya pertanyaannya agak melenceng sedikit ke blockchain. Seperti yang kita ketahui, big data dengan block chain memiliki kesamaan dalam penyimpanan data. Sebenarnya yang membedakan antara keduanya apa, ya, kak? Terimakasih.

Jawaban:

Setahu saya blockchain bisa menjadi bagian dari big data karena blockchain sendiri adalah sebuah skema penyimpanan data yang decentralised (tidak berkumpul di satu titik), dan satu antar titiknya terdapat penghubung dengan sistem keamanan yang tinggi. Jika orang ingin mengambil informasi dari data yang disimpen dalam blockchain harus bisa meretas semua titik yang saling terhubung. Tapi untuk sekarang, big data yang sering kita lihat sehari-hari setahu saya belum pakai teknologi ini. Masih menggunakan database biasa, baik itu menggunakan cloud ataupun fisik (on premise).

  • Mau ngajuin pertanyaan, ini kan lagi kuliah semester 4, bagusan apa yang harus dimulai untuk mempelajari big data?

Jawaban:

Based on my experience, 80% yang saya kerjain sekarang tidak ada di kuliah. Sebaiknya dikuatkan pondasi mulai dari statistics, database, coding. Kalau ada kuliah atau lab yang related ke data mining ambil. Yang paling penting sering belajar dari internet karena sekarang inovasi di bidang teknologi jauh lebih cepet dari kampus. Detailnya sudah banyak di internet step-stepnya, yang penting ada kemauan. Kalau bisa nanti intern di tempat yang related biar nanti gampang cari kerjanya. Ini salah satu source yang bagus.

https://courses.analyticsvidhya.com/courses/a-comprehensive-learning-path-to-become-a-data-scientist-in-2019
  • Bagaimana proses  pemanfaatan data untuk menghentikan covid-19. Kira2 berapa lama dan apa saja yg dibutuhkan dalam prosesnya?

Jawaban:

Lagi-lagi saya bukan yg ahli di bidang ini, kamu mungkin bisa mulai dari baca artikel ini:

https://asumsi.co/post/haruskah-kita-memakai-big-data-untuk-menangani-wabah-covid-19

Kalau yang saya lihat, dari infrastruktur yang ada di Indonesia sekarang belum memadai. Ada tapi tidak akan bisa sebagus di China atau Korea. Belum lagi regulasi kerahasiaan data dan sebagainya. Semoga kita semua bisa belajar banyak dari pandemik ini, termasuk bagaimana mempersiapkan infrastruktur untuk menanggulanginya.

  • Bagaimana cara menjadi seorang data analyst yang baik sehingga mampu menggolah data dengan tepat? 

Jawaban:

Pondasinya statistics & computer science, lalu dikombinasikan dengan bidang businessnya (domain knowledge). Sejujurnya saya juga banyak learning by doing, dan yang penting terus diasah dengan banyak belajar di internet. banyak course-course gratis maupun berbayar yang bisa kita ambil. Satu lagi, bahasa inggrisnya diasah terus. Mulai biasakan baca artikel Bahasa Inggris.

  • Kira-kira seberapa efektif kah penanganan Covid-19 di Indonesia menggunakan big data? Kalau bisa prosedur nya juga dijelaskan. Terimakasih

Jawaban:

Langkah-langkahnya Pemerintah bisa mulai memetakan persebaran data pasien, ODP, dan PDP dengan bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi. Dari situ coba ditelusuri jejak para pasien kemana saja, karena ini terekam di BTS-BTS yang dimiliki operator telekomunikasi. Akan terlihat daerah-daerah mana yang rawan, dan ini bisa diumumkan ke publik untuk dihindar. Cara lain kalau memang sudah tegas lockdown, maka bisa dicek berdasarkan smartphone location. Siapa saja yang tidak taat untuk stay di rumah, bisa segera ditangani. Namun, dari segi efektivitas mungkin masih belum, karena masalah di depan mata lebih besar yang harus di prioritaskan terlebih dahulu seperti pemeriksaan massal, pelayanan bagi pasien yang positif, APD yang minim, dan seterusnya.

  • Kalau kakak sendiri melihat dan menganalisis salah satu isu sensitif tentang privasi data personal seperti apa? Saya pernah mengikuti seminar dengan Pak Khoirul Anwar, salah satu dosen Telkom. Pak Khoirul sempat menyinggung tentang beliau dan tim yang tergabung dalam salah satu proyek skala internasional tentang 5G. Kalau menurut kakak berarti chance Indonesia untuk bersaing secara global memang tinggi ya, Ka? Terima kasih sebelumnya.

Jawaban:

Mengenai privacy sebenarnya sekarang menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk kita hindari, bahkan justru dari saya pribadi service-service dari Google/FB dan seterusnya banyak membantu aktivitas saya sehari-hari. Yang dapat kita lakukan adalah mengurangi dan meningkatkan awareness. Mengurangi apa? Mengurangi untuk memasukan informasi yang bersifat sangat pribadi ke Internet yang memungkinkan untuk diakses orang banyak.Seperti alamat lengkap, no hp, jangan pernah dimasukan ke sosmed atau blog dan semacamnya. Awareness di sebelah mana? Sekarang banyak bertebaran link-link penipuan, aplikasi-aplikasi bodong yang berpotensi untuk membreach data yang ada di smartphone kita. Jangan asal klik link atau install aplikasi ya, kalau dirasa apps tersebut ga perlu akses photo/media atau phone contact kita, jangan di allow ketika install. Kalau mau lebih protektif bisa kamera depan laptop dan hp ditutup, tapi zaman sekarang sudah sulit sebenernya karena suka terpakai.

Oke, lanjut pertanyaan kedua, ya. Pendapat pribadi saya, as a person orang Indonesia hebat-hebat loh. Gak kalah sama orang-orang luar negeri. Di kantor saya sekarang banyak expat (orang luar yg kerja di Indo) karena Traveloka sudah masuk ke Asia Tenggara, Australia, dan ada kantor India. Saya lihat, talent-talent kita bisa kok bersaing dengan mereka. Yang kedua, secara inovasi dan bikin perusahaan juga bisa bersaing, seperti traveloka, gojek sudah bisa expansi ke luar negeri, mempekerjakan orang-orang luar negeri bahkan bersaing dengan perusahaan di negara asalnya. Mungkin yg kurang adalah integrasi semua sektornya, perusahaan-pemerintah-riset belum bisa sebagus negara maju.

  • Gimana si kak kita tahu diri kita sudah expert/bisa menguasai ilmu dalam bidang data seperti data science/analys contohnya? Apalagi dengan kita yang hanya mengandalkan belajar lewat internet.

Jawaban:

Ada beberapa indikator, pertama kita bisa ambil kursus online. Kalau kita bisa dapet sertifikatnya dengan menyelesaikan kursusnya berarti kita sudah menguasai sub-bidang tersebut. Yang kedua dari menyelesaikan soal-soal di internet, atau membuat project yang ada di web seperti hackerrank.com atau kaggle.com, disana kita berkompetisi dengan orang di seluruh dunia dan kita bisa tau dimana posisi ranking kita. Ketiga, kalau kamu bisa keterima kerja di perusahaan di bidang yang kamu geluti, artinya orang-orang sudah menghargai skill yang kamu miliki.

  • Untuk diterima di job kalau bekerja di domain big data, apa saja yang harus kita tunjukkan ke interviewer?Apakah kita harus bisa desain untuk bekerja di domain big data?

Jawaban:

Jadi, yang pertama kita harus punya pondasi yang kuat. Bisa dari skripsi yang related ke bidang tersebut, intern di perusahaan dengan jobdesc related, ataupun certificate dari course yang sesuai bidang tersebut. Jangan langsung aim ke perusahaan besar, dari stepping stone dulu di perusahaan kecil. Biasanya nanti akan lebih mudah. Beralih soal ke 2, jawabannya ngga. Tapi kalau punya sense desain bisa cukup membantu dalam membuat story visualisasi data yang bagus. Tapi sekarang udah banyak tools yang bagus, jadi ga perlu bikin dari scratch, kecuali fokusnya bener-bener  di infografis.

TENTANG PEMATERI

Pemateri bernama Hamzah Assadurrahman yang saat ini menjadi senior data analyst Traveloka sejak 2018-sekarang. Beliau memiliki expert skills di bidang bahasa pemrograman seperti SQL, Python, PySpark, dan R serta skills di bidang teknologi data seperti GCP, AWS, JupyterLab, Hadoop, MongoDB, dan PostgreSQL.

One thought on “Peran Big Data Dalam Menghadapi Perubahan: Studi Kasus Virus Covid-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *