You are currently viewing Dampak Wabah Covid-19 Pada Dunia START UP

Dampak Wabah Covid-19 Pada Dunia START UP

SHARE WITH US NEXT LEVEL

Pemateri          : Wahyu Rismawan

Tema               : Dampak Wabah Covid-19 Pada Dunia START UP

Waktu             : Jumat, 17 April 2020

Tempat            : Grup Whatsapp

TENTANG PEMATERI

Pemateri bernama Wahyu Rismawan. Seorang Founder Yaumi Indonesia dan saat ini juga bekerja sebagai Product Manager di iGrow Asia. Beliau pernah juga menjabat sebagai Head of Product pada BADR Startup Studio. Berpengalaman sebagai “Tech-Product Guy” dengan pengalaman yang ditunjukkan bekerja di Industri Technology and service. Tertarik untuk memahami masalah bisnis dan menyelesaikannya melalui pendekatan teknologi kreatif. Terampil dalam Manajemen Produk dengan latar belakang teknis yang kuat dan kepemimpinan yang rendah hati. Penghargaan yang pernah diraih, yaitu sebagai Juara Satu pada Startup Weekend Jakarta yang diinisiasi oleh Google pada tahun 2015. Kemudian, menjadi mentor pada gerakan 1000 startup digital.

PERKENALAN

Nama saya Wahyu Rismawan, aktivitas saat ini sebagai fulltime suami dan ayah dari sorang putri. Tinggal di Depok, Daerah Pekapuran Tapos. Bekerja sebagai Product Manager iGrow.asia, salah satu peer to peer landing di bidang pertanian. Tujuannya untuk membantu petani untuk bisa mendapatkan pemodalan dengan akan syariah. Saya juga membangun startup bernama Yaumi Indonesia sebagai Co Founder bersama teman – teman saya, startup ini semacam self development tools untuk teman–teman muslim milenial. Saya juga membantu pemerintah sebagai mentor product and tech pada Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Biasanya saya membicarakan tentang startup, product strategy and management, organization management, leadership dan syariah things, khususnya pada bagian ekonomi syariah. Untuk kontak bisa melalui email di wahyurismawan@gmail.com.

MIND BLOWING

Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya ingin menyamakan dulu sebuah definisi.Apa sih bedanya sebuah startup dengan perusahaan. Karena masih banyak terminologi yang muncul di masyarakat dan salah kaprah menganggap bahwa startup itu adalah sebuah perusahaan dan perusahaan itu sebuah startup. Jadi, apa bedanya?

Ada banyak definisi tentang startup, banyak yang bilang kalo startup itu adalah sebuah organisasi yang di desain untuk memiliki growth secara eksponensial (dengan cepat), banyak juga yang bilang kalo startup itu adalah organisasi yang santai, bebas, tidak ada aturan, dan sebagainya.Saya mengambil definisi dari Steve Blank, salah satu bapak inovasi dan beliau banyak menjadi rujukan pada dunia startup di seluruh dunia. Steve Blank mengatakan, “Startup adalah sebuah organisasi sementara yang pekerjaanya adalah mencari sebuah bisnis model yang sustainable dan repeatable”. Jadi, startup adalah organisasi yang kerjaanya mencari sebuah bisnis model / mendesain bisnis model. Berbeda dengan company, company itu sudah punya bisnis model, tinggal mengeksekusinya saja. Lalu pertanyaanya apa itu bisnis model? Bisnis model itu gampangnya adalah sebuah organisasi yang sudah tau bagaimana caranya mendapatkan uang dan profit dari aktivitas bisnis yang mereka jalankan.

Biar temen – temen inget, startup itu adalah organisasi yang galau. Dia masih galau bagaimana cara menjalankan bisnisnya. Karena masih belum tau, siapa customernya?; apa product yang tepat untuk dijual pada customer tersebut?; apakah  startup tersebut menyelesaikan problem yang valid atau nggak?; terus bagaimana pricingnya?; bagaimana cara dia memasarkan ke market? Mereka masih belum tau dan masih bereksperimen. Oleh karena itu, keyword dari startup adalah search, mereka masih mencari, masih galau. Beda dengan company, company itu udah tau siapa customernya, tau bagaimana cara mendapatkan uang, tau gimana cara memasarkan produknya, tau apa produk yang tepat untuk customer. Jadi, mereka tinggal mengeksekusi. Itulah perbedaan dasar antara startup dan company. Dari mindset ini akan berpengaruh terhadap cara keseharian kita dalam menjalankan sebuah organisasi. Jangan sampai kita masih startup tapi gaya kita kayak company. Artinya, kita terlalu Percaya diri ingin menjual suatu produk yang dikiranya pasti laku, padahal sebenernya kita masih belum tau siapa customer kita.

STARTUP JOURNEY

Bagaimana perjalanan sebuah startup?Perjalanan sebuah startuo itu gak langsung tiba – tiba besar seperti Gojek, Traveloka, Bukalapak, dll. Mereka menjalani proses ini, makanya di aksis yang x itu growth, artinya pertumbuhan bisnis dari sisi revenue atau transaksi, dan y aksisnya itu time. Sebuah startup itu mulai dari mencari problem yang ingin diselesaikan. Makanya tahap yang sekarang itu namanya ‘problem solution fit’ itu istilah yang umum. Mereka masih mencari apa problem yang tepat yang akan diselesaikan melalui ide yang dimiliki. Biasanya mereka tidak memiliki produk yang canggih, biasanya masih berbentuk mvp (Minimum Valuable Product), sebuah solusi prototype yang bisa menyelesaikan problem kecil tersebut. Saya kasih contoh flip, aplikasi transaksi antar bank gratis. Mereka tidak langsung membuat aplikasi, mereka memulai pada memvalidasi apakah transfer antar bank menggunakan biaya itu adalah sebuah problem yang besar untuk segmenya dia yaitu anak – anak muda. Mereka mencoba memvalidasi dengan cara membuat google form. Jadi, kalo ada orang mau transfer antar bank, mereka mengisi google form mau transfer kemana, jumlahnya berapa dari bank mana dan tujuan banknya mana.Dari sana flip udah punya beberapa bank yang disimpan. Misalnya dia punya bank mandiri, bri, bca. Klo ada orang yang transfer dari mandiri ke bca, berarti nanti flip nalangin dari rekening bank bca-nya dia, gitu cara kerjanya. Flip gk langsung bikin aplikasi tapi dia pake mvp yang berbentuk google form. Nah, dari sana ketahuan, oh ternyata banyak transaksinya. Kalo banyak transaksinya berarti sudah valid problemnya dan solutionya sudah valid, problem solution fit-nya sudah clear. Masuklah ke dalam fase selanjutnya yaitu produk market fit. Nah selanjutnya disini bikin bagaimana caranya google form yang tadi udh dibuat, dibuat menjadi lebih otomatis, makanya dia bikin produk aplikasi webnya, trus dia mencari segmen market yang pas, waktu itu dia menyasar pada mahasiswa UI, jadi gak langsung ke semua orang. Karena dia ingin memvalidasi di skala yang lebih kecil dulu. Setelah oke, produknya diterima dan marketnya clear dia scale ke market yang lain. Ternyata dalam perjalanan dia mengetahui klo produknya digunakan juga oleh perusahaan untuk mentransfer gaji karyawanya. Disanalah dia menemukan satu bisnis model baru, yaitu flip untuk bisnis. Nah, selanjutnya adalah channel product fit. Klo kita udah punya produk dan udah tau market yang ingin kita sasar. Selanjutnya adalah kita mencari tahu channel apa sih yang tepat, efektif dan effisien untuk memasarkan produk kita. Channel marketing, channel distribusi, misalnya apakah dengan social media atau cara lain.Pada masa ini lagi fase pertumbuhan.Selanjutnya fase maturity, fase ini itu fase yang udah matur seperti Gojek, Traveloka, Bukalapak, dll.Dan next stepnya itu adalah expansi.

Sebuah research mengatakan bahwa 72% dari startup itu gagal. Pada research lain dari Forbes, 9 dari 10 startup itu gagal, jadi 90% dari startup itu gagal. Kenapa membangun sebuah startup itu sulit?Jadi ada banyak alasan kenapa startup itu gagal. Ada yang bilang kehabisan modal / uang, gk dapet tim yang pas, soal pricingnya, produknya yang jelek. Tapi, penyebab utama dari kegagalan sebuah startup itu adalah ‘no market need’, tidak ada yang membutuhkan produk tersebut.Kebanyakan dari startup founder itu idenya berangkat dari asumsi yang belum tentu asumsi tersebut benar.Oleh karena itu, tahap pertama dalam membuat startup itu adalah dengan validasi problem, apakah orang” memiliki problem tersebut, ini yang sulit.Karena masing” founder itu punya ego dan bias terhadap apa yang diasumsikan. Jadi, kebanyakan dari mereka gagal bukan karena gk bisa bikin produk, bukan karena gk tau teknologi mana yang baik digunakan untuk membuat produk, tapi karena gak punya customer. “Most startup fail from lack of customers than from failure of product development”. Mencari customer itu lebih sulit daripada membuat produknya, jadi kita harus start dari customer dulu.

Kita harus bikin produk start dari customer kita, apa masalah dia sehingga kita bisa bantu masalah dia. Jangan bikin produk dulu baru cari customernya. Jadi, most startup founder itu kita selalu memulai dengan sebuah visi yang sangat kuat, keinginan yang kuat untuk memulai startup  dan kita mengejewantahkan itu menjadi sebuah Plan A (ide awal) dan biasanya Plan A itu gak works. Misal kitabisa.com, Plan A-nya mereka itu crowdfunding untuk para innovator maker atau creator. Jadi awal” bang tini dan mas fikra itu gk menset kitabisa itu buat charity. Dia terinpirasi dari startup luar yaitu kickstarter.Jadi buat orang-orang yang suka berinovasi buat produk canggih dan revolusioner tapi butuh pendanaan dia pake kickstarter. Lalu kitabisa mengadopsi itu dibawa ke Indonesia buat mendukung para creator dan inovator di Indonesia. Dia coba 1,2  tahun ternyata gak begitu works.Di tengah-tengah banyak yang minta bisa gak ya kitabisa dipake buat penggalangan dana bantu temen yang sakit, pembangunan masjid, dan lain-lain. Awalnya mereka menolak, tapi karena crowdfunding untuk para innovator dan makers ini gak terlalu bekerja akhirnya mereka bisa menerima itu. Ternyata kitabisa itu dipake buat bantu orang sakit, renovasi rumah ibadah, donasi bencana alam, dan lain-lain. Tadi yang saya bilang, kalo founder itu pasti punya keras kepala di awal.  Di sini kuncinya adalah kita sebagai founder harus menurunkan ego kita, jangan keras kepala mempertahankan ego kita yang sebenernya gak valid.Oleh karena itu Founder harus banyak ngobrol minta masukan dari banyak orang, bukan hanya keras kepala dengan ide kita. Itu contoh kasus dari PlanA, jangan sampai kita sebagai startup founder itu ngeyel dengan ide awal kita klo ide kita pasti bener. Kalo kata mas natali salah satu co-founder tiket.com yang sekarang udah keluar dia bilang, “klo ini adalah startup pertama kamu, kamu harus expect bahwa ini gak akan bekerja”. Itu fase yang harus dilalui semua startup founder. Kita harus menelan kegagalan itu dan mengambil pembelajaran sebanyak-banyaknya. Jangan terlalu keras kepala sama ide awal kita, coba ngobrol sama customer, lakuin research klo emang harus berubah ya berubah.

BUSINESS MODEL CANVAS

Ketika kita punya ide jangan hanya memikirkan solusinya. Tapi kita harus start dari customer segmentnya. Sebenernya siapa yang mau kita tolong, problem apa yang mereka miliki, trus dari problem ini apa solusi yang tepat, trus apa sih alasanya supaya orang memakai produk kita dan bagaimana cara memasarkan dan memonetize ini, apa aja cost yang harus dikeluarkan. Jadi, jangan hanya memikirkan solusi, produk atau servicenya aja, tapi juga harus memikirkan semua aspek itu, saya menyebutnya ‘Nine Building Blocks’.Disini kita bisa memetakan resiko saat kita menjalankan sebuah startup.Pertama adalah resiko produk, apakah produknya bisa diterima, apakah produknya menyelesaikan masalah yang valid.Kedua adalahcustomerize, apakah saya berhasil menemukan customer yang tepat untuk produk saya. Ketiga adalah market risk,ini adalahbagaimana caranya kita bisa memonetize ini, mendapatkan keuntungan dari sini supaya bisnis kita bisa tetap berjalan, kira” costnya apa aja yang diperlukan untuk menjalankan bisnis ini, dan kira” kompetisinya itu seperti apa. Ada gk sih org yg udh pernah bikin produk ini, dan bukkan berarti klo udah ada orang yang bikin kita gk bikin. Justru salah satu poin yang bagus klo udh ada orang yang bikin dan berhasil bisa jadi kita bisa tiru amati dan modifikasi. Kita lihat siapa aja pemainya, dan gimana caranya supaya kita bisa berkompetisi dengan mereka.Saat melakukan validasi sebuah ide yang harus kita lakukan adalah iterasi, kita coba bikin protorypenya kita kasih ke pasar, ada gk sih orang yang menerima produk kita.

STARTUP DI ERA COVID-19

Banyak ahli yang memprediksi bahwa setelah pandemic Covid-19 ini akan merubah landscape bisnis di dunia. Khususnya industri yang terkena dampaknya seperti hotel, travel, transportation, fashion, dll.Sedangakan industri yang memiliki dampak positif ada pada industri agri-tech, karena kebutuhan makanan, sayur masih banyak dibutuhkan masyarakat pada kondisi seperti ini, kemudian healthcare,seperti kebutuhan masker, obat-obatan, herbal, dll.Lalutelecom (seperti aplikasi zoom, video conference itu lagi booming). Kemudian ada content, karena setiap orang lagi dirumah aja, sehingga content sangat dibutuhkan banyak orang.

Media saat ini sangat diuntungkan dari bisnis modelnya pada kondisi seperti ini, karena setiap orang membutuhkan informasi dan berita mengenai update terkini. Kemudian industry bisnis seperti travel agent, seperti traveloka, tiket.com itu memiliki penurunan sales. Bahkan data dari asosiasi travel, pada bulan februari memiliki kerugian sebesar 4000 triliun.  Sosial media saat ini lagi naik, karena behavior orang dalam mengonsumsi berita itu biasanya melalui social media. Lalu di food supermarket, grocery apps itu sangat naik di bulan maret ketika corona hype di seluruh dunia, trafiknya cenderung naik, karena cara membeli makanan saat ini secara online.

Jika kita sudah mengetahui bahwa ada perubahan behavior, perubahan cara berinteraksi, bekerja, dll pada kondisi seperti ini. Lalu bagaimana kita memanfaatkan moment ini untuk memulai bisnis? Kuncinya adalah kita harus mulai dari, problem apa yang akan kita selesaikan? Kembali ke data awal, bahwa kebanyakan startup gagal itu bukan karena dia gk bisa bikin produknya tapi karena dia bikin produk yang orang lain gk butuh. Jadi kita harus tanya, apa sih problem yang dirasakan oleh orang lain, bukan hanya problem menurut asumsi pribadi.

Ini adalah sebuah canvas yang akan membantu kita gimana caranya kita menemukan sebuah problem dan solusi yang pas. Jadi, simpelnya adalah kita amati fenomena kita lakukan research kualitatif dan kuantitatif, sebenernya apa sih ketakutan orang lain. Misal disini ada anak-anak muslim yang mau ramadhan, apa sih yang ingin mereka selesaikan dan kerjakan? Pertama adalah, dia ingin tetap produktif di rumah aja selama ramadhan.  Itu keinginan dia, atau customer job istilahnya. Nah, dari situ kita coba gali apa kekhawatiran dia, kenapa dia ingin tetap produktif di rumah aja selama ramadhan. Ternyata, dia takut ini menjadi ramadhan terakhirnya karena corona. Dia takut juga gak bisa memaksimalkan ramadhan di tahun ini. Nah, kita tangkap tuh ketakutannya itu dan kita tangkep apa sih keinginannya dia. Misal ingin punya lingkungan yang baik dalam ramadhan, juga ingin aktif pada kegiatan ramadhan, kayak ramadhan biasanya kan bisa ikut I’tikaf, kajian, saya ingin itu tetep ada. Terus saya juga bisa dapet inspirasi dari orang – orang keren. Nah, kita tangkep itu dulu, apa sih ketakutan orang, apa sih yang orang inginkan. Dari sanalah, kita berpikir kira-kira ketakutanya itu bisa kita solve dengan apa. Lalu, kita menawarkan pesantren kilat digital misalnya.Orang bisa tetap aktif dan produktif dirumah dengan ikut pesantren kilat digital online. Nah, di sini apa fitur dan experience yang ingin kita kasih.  Misal, disini ada rangkaian kegiatan sharing dari pembicara berkompeten. Disini juga kamu bisa dapet raport ramadhan kamu seperti apa. Karena dia butuh lingkungan yang baik, jadi dia butuh raport untuk sarana evaluasi. Terus gimana untuk menyelesaikan masalah ketakutanya dia, di  sini kamu bisa dapet ilmu dari orang berkompeten tadi supaya ramadhan kamu optimal, terus ada grup khusus dan mentornya. Nah, itu cara kita mendesain sebuah produk, jadi kita harus selalu start dari customer kita, apa sih ketakutan dia baru kita ciptakan solusi dari situ.

Ini beberapa rekomendasi buku yang sangat oke untuk menambah kapasitas keilmuwan kita saat menjalankan sebuah bisnis startup. Pada dasarnya apa yang seorang startup founder harus miliki basicnya adalah harus gatel kalo lihat sebuah masalah, dia gatel sebuah masalah itu harus diselesaikan mindset problem solver. Yang kedua adalah mindset pembelajar, jadi dia harus terus belajar setiap saat karena diaakan dihadapkan dengan problem – problem. Kita juga harus diimbangi dengan kapasitas teknis gimana cara ambil produk dan service atau gimana kita mengatur sebuah bisnis, keuangan itu hal penting juga. Tujuan kita membangun bisnis sebagai muslimitu, ketika kita membangun sebuah bisnis itu dan memperhatikan profit, profit dan profit itu tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi, tapi juga bagaimana supaya bisnis kita bisa tetap sustain. Kita ingin kebermanfaatan itu terus terjadi, dan bensin dari sebuah organisasi adalah uang. Jadi uang itu bukan tujuan tapi uang itu adalah cara, cara kita biar tetep sustain karena ada karyawan yang harus di gaji ada barang yang harus dibeli dst.

TANYA JAWAB

  1. @Bung Moko  :

Apakah startup harus selalu identik dengan teknologi?

Idealnya berapa orang?

Jawaban:

Jika mengacu pada definisi Steve Blank tadi, startup itu tidak harus selalu berkaitan dengan teknologi.Tetapi karena disitu ada aspek scalability dan tumbuh cepat, artinya dia bisa menscale tanpa harus mengeluarkan effort yang terlalu banyak itu biasanya identik dengan teknologi, cuman gak berarti harus teknologi. Teknologi itu hanya sebuah tools yang bisa dipakai untuk membantu bisa lebih scalable dan menjangkau lebih banyak orang. Ideal untuk memulai startup itu 3 orang sudah cukup, untuk memenuhi hacker (orang yang membuat produk), hustler (orang yang mengurus bisnis), dan desainer (orang yang mendesain produk).Jika terlalu banyak konsekuensinya adalah keputusan jadi sulit untuk dibuat, karena startupitu sangat dinamis dan membutuhkan keputusan penting yang diambil secara cepat.Jadi, dalam diskusi itu gk boleh lebih dari 5 orang.

  • @Elmo Juanara
  • Berapa lama rata-rata sebuah start up bisa sampai profit?
  • Bagaimana peran investor kepada start up yang mereka danai? Apakah mereka akan mengatur?
  • Bisa dijelaskan jenis-jenis seri pendanaan dari investor?
  • Kenapa nama iGrow sekarang ada Asianya? Apa pasarnya sudah expand?
  • Peluang agri tech di Ina dan bagaimana iGrow bisa competite dengan startup sejenis (tanihub) dsb?

Jawaban:

  1. Tidak ada acuanya, tergantung terhadap bagaimana caranya strategi startup itu bekerja dengan baik sesuai rencana. Tapi biasanya startup besar seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dll. Mereka itu belum profit, karena ada hal yang mereka prioritaskan yaitu growth. Misal pertumbuhan GMV (Growth Merchandise Volume) atau pertumbuhan user, itu yang mereka cari. Jadi, tergantung strategi dan seberapa panjang nafas / seberapa banyak uang klo kita boleh rugi itu sampe kapan. Biasanya klo startup digital pada umumnya yang mereka dapet funding, mereka tidak di set untuk profit cepat, tapi diset untuk tumbuh cepat. Itu pilihan, mau dapet profit cepat atau tumbuh cepat.
  • Tergantung stage, jadi klo investor naro duit ke startup kita biasanya ada nilainya. Misal investor ngasih uang 1 milyar untuk dapet 5%,kalauitu gk terlalu berpengaruh untuk membuat keputusan.
  • Seri pendanaan itu awalnya pre-seed, klo temen temen punya ide trus jadi produk dan udah works udah ada customernya, udah ada tractionya udah ada pembelianya tapi masih kecil, nah itu perlu funding, biasanyaseed funding istilahnya, nilainya bisa 100 – 300 juta, tergantung investor.Investor seed funding itu biasanya bukan venture capital, tapi angel investor.Misal pengusaha atau orang yang udah punya banyak uang, dan biasanya gk terlalu ngatur-ngatur.Setelah seed funding bisa masuk ke SerieA, dan ini bergantung pada nilainya, kayak nilainya 2 – 15 juta dolar. Macem – macem ada yang menilai dari amounnya atau concern-nya. Klo di Serie A itu konsepnya udah clear, trus udah mengalami seat funding, marketnya udah tercipta dan dia pengen expand. Goals dari Serie A itu adalah butuh pendanaan supaya bisa expand. Biasanya klo diinvest sama venture capital pada Serie A, B, C biasanya udh bisa ngatur” atau nitip jabatan direktur atau board komisarisnya misalnya.
  • Belum expand keasia, memang ada rencana. Kita lagi proses mengusahakan pendanaan Serie A untuk expand. Udah ada beberapa tawaran Thailand, Vietnam, dan Filipina tapi masih dipikirkan. Karena expand itu artinya manambah kompleksitas.
  • Igrow itu berkompetisinya tidak dengan Tanihub (kalo tanihub itu jualan sayur), tapi sainganya ada di salah satu perusahaan tani group yaitu TaniFund. Karena Igrow itu funding, yang mengurus pembiayaan. Cara kompetisinya itu yang membedakan kita itu, salah satu value kita itu kita punya partnership lender (orang yang ngasih modal)yang loyal. Jadi, kredibilitasnya baik. Kedua, memang pasar dari peer to peer lending itu masih besar. Harus terus berniovasi, karena competitor juga lagi berinovasi. Peluangnya sangat menjanjikan, karena setiap orang butuh makan, sehingga peluangnya di agri-techcukup besar.
  • @Moh Miftachul Hadi:

Kalau kita mempunyai bisnis suatu jasa, Bagaimana cara agar customer kita percaya kepada bisnis kita dan mau bekerja sama dengan kita? Agar bisa menjadi aset kita?

Jawaban:

Kalo buat saya berbisnis itu tentang menjual kepercayaan. Orang menggunakan service kita itu bukan karena service kita bagus, tapi karena percaya sama kita. Kalo kita belum terkenal sama sekali berarti kita harus memasarkan, melakukan aktivitas marketing mengenalkan diri siapa kita dan apa kelebihan kita. Tahap pertama adalah awareness, memberitahu kepada banyak orang bahwa produk kita itu ada, sehingga orang tau. Tahap selanjutnya adalah mempertimbangkan, supaya orang bisa percaya sama produk kita daripada produk yang lain. Caranya adalah kita harus meyakinkan bahwa solusi yang kita tawarkan berhasil, dengan menyampaikan testimoni.Penting bagi kita untuk mendapatkan customer awal, dan bikin mereka puas.Karena iniakan menjadi asset untuk diambil testimoni dari mereka (social proof). Atau bisa juga produk kita direkomendasikan oleh ahli (authority).Yang paling penting adalah kita menjaga kepercayaan dan service kita. Kalo orang puas, merekaakan merekomendasikan kepada orang lain. Keywordnya klo temen – temen mau belajar lebih lanjut itu ada namanya marketing funnel (menggiring orang dari gk tau menjadi beli).

  • @Elmo Juanara:
  • Bagaimana kabar startup di Ina dengan iklim regulasi di Ina? Apakah so far so good?
  • Apa contoh jobdes sebagai Product Manager di iGrow Asia?
  • Bagaimana peran iGrow dibidang agri tentunya dalam rangka mereduksi ketergantungan impor Indonesia dari negara lain?
  • Termasuk bagaimana quality control produk agri dalam negegri dari iGrow agar bisa bersaing dgn LN?
  • Apakah menjalankan startup yg bernafaskan ke Islam an (i.e Yaumi) mempunyai peluang pendanaan dan dukungan pemerintah di kondisi sekarang? Apakah ada success story dari startup berkategori ini sebelumnya?

Jawaban:

  1. Tergantung sektornya, klo fintech itu regulasinya sangat ketat, makanya Igrow itu dipantau langsungsamaOJK. Disatu sisi ribet, tapi itu juga untuk kebaikan bersama. Justru disitu jadi ketahuan mana yang serius. Misal klo di peer to peer lending sejenis igrow gitu ada level”nya, pertama terdaftar di OJK yang itu dipantau samaOJK lalu berizin, dan itu ada step” yang harus dilalui. Banyak startup yang tumbang karena merasa ribet dan butuh modal yang banyak juga.
  2. Contoh jobdesk Product manager di Igrow itu ada 2, pertama problem solving,tugasnya adalah menyelesaikan masalah yang ada di Igrow,misal customer ada kendala atau masalah apa, perlu bikin fitur apa yang bisa menyelesaikan masalah tersebut. Saya selalu diskusi lintas divisi untuk mengetahui problem apasaja yang sedang terjadi, setelah itu memprioritaskan masalah mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, kemudian diskusi sama tim teknologi untuk build solution. kedua manage team development. Intinya bantu bisnis supaya bisa berjalan dengan baik melalui teknologi.
  3. Saya kurang tau karena terlalu makro, saya belum bisa menjawab, cuma yang jelas misinya igrow itu ketahanan pangan. Dan kita kasih alternative solusi buat para petani biar dia dapet pemodalan selain bank supaya syariah.
  4. Ini juga saya kurang tau karena ini diluar area peer to peer landing. Karena peer to peer landing itu hanya mengurus pemodalan dari petani, jadi kita gk ngurus quality control, gk ngurus gimana dia ngejual itu nggak.
  5. Kalo produk islam itu agak rumit, karena di satu sisi investor itu butuhnya uang, dan temen-temen di yaumi itu menjaga supaya investor yang menaruh modal di yaumi itu punya value dan visi yang sama terhadap islam. Jadi, gk pingin nyari orang-orang yang menaruhuang trus dia mau nyari untung aja. Kalo dari landscape bisnisnya industry bisnis syariah itu lagi tumbuh, jadi masih ada kemungkinan untuk bisa mendapat pendanaan. Kebutuhan terhadap hal syariah itu sangat dibutuhkan di Indonesia.

CLOSING STATEMENT

Terima kasih kepada panitia yang sudah membuat agenda ini dan terima kasih atas pertanyaan yang masuk. Semoga apa yang saya sampaikan itu menjawab pertanyaan temen – temen semua, dan mohon maaf kalo banyak kekurangan ada pertanyaan yang tidak terjawab. Saya mengingatkan diri sendiri dan juga temen semua, pastikan apa yang kita kerjakan di area bisnis itu semata-mata untuk ibadah. Jadikan kendaraan untuk menciptakan portofolio – portofolio kebaikan kita di akhirat.  Jadi, menurut saya sebagai muslim, sangat pendek kalo apa yang kita usahakan di bisnis hanya semata-mata mencari keuntungan uang di dunia saja, tapi lebih dari itu. Karena dengan berbisnis kita bisa membantu orang lain yang membutuhkan solusi kita dan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga banyak keluarga yang bisa memenuhi kebutuhan karena kita menjadi salah satu pintu rizki dari Allah SWT. Mungkin temen – temen juga yang sedang sedang membangun bisnis merasakan bahwa membangun bisnis itu tidak mudah, tapi bukan berarti tidak layak untuk diperjuangkan. Terus senantiasa belajar, karena ilmu dan market terus berubah. Kita harus bermodalkan membaca dan berdiskusi dengan pebisnis lain. Dan yang paling penting kita membuat bisnis itu tidak boleh berangkat dari asumsi pribadi, tapi harus tervalidasi. Apakah benar yang kita tawarkan bisa membantu orang banyak, sehingga kita bisa mendapatkan imbal hasil, sehingga dari hasil itu bisa menjalankan operasional bisnis kita.

Info tambahan, biasanya saya membuka sesi discussion setiap Jum’at pukul 17 – 18. Waktu khusus untuk komunitas,  biasanya saya sharing dan temen–temen dari komunitas startup untuk sharing dengan saya dan saya belajar juga dari temen–temen.  Begitu ya, temen – temen saya akhiri dengan membaca hamdalah, Alhamdulillahirabbil alamin.

Wassalamu’alaikum wr.Wb.

Leave a Reply