You are currently viewing Pengurus MITI KM menjadi Presenter di 7th International Health Literacy Conference

Pengurus MITI KM menjadi Presenter di 7th International Health Literacy Conference

Asian Health Literacy Association (AHLA), kembali menyelenggarakan The 7th International Health Literacy Conference. Tahun ini, dengan mengusung tema Health Literacy is Smart Universal Healthcare. Kegiatan diikuti oleh sekitar 250 partisipan dari berbagai negara di dunia. Acara ini berlangsung selama tiga hari, yaitu tanggal 10 s/d 12 November 2019 di Convention Center 272 Vo Thi Sau, Distric 3, Ho Chi Minh City, Vietnam. Konferensi ini bertujuan untuk mempertemukan para praktisi kesehatan masyarakat, pembuat kebijakan, peneliti, akademisi dan mahasiswa yang tertarik dalam bidang literasi kesehatan dan kesehatan masyarakat untuk membahas dan mengekplorasi tren nasional, global, dan internasional dalam literasi kesehatan hari ini. AHLA sendiri merupakan sebuah organisasi yang membantu memperluas pengetahuan masyarakat tentang literasi kesehatan. Konferensi rutin diadakan setiap tahun, dan melalui terselenggaranya konferensi ini, diharapkan hadirnya ide dan pengetahuan baru yang dibagikan di antara anggota dari berbagai negara.

                Hari pertama, minggu, 10 November 2019, adalah Pre-Conference Day. Kegiatan terlaksana berupa workshop 3 sesi dengan masing-masing topiknya ialah Health Literate Healthcare Organizations application in research and practice, Health Literacy Policy and Advocay, dan Digital Health Literacy, Health Literacy and Innovation in Health Care System. Hari pertama berlangsung dari pukul 09.00 sampai pukul 12.00 waktu setempat, yang dilanjutkan dengan City Tour dan Welcome Dinner.   

                Conference Day berlangsung di hari kedua dan ketiga. Acara yang terselenggara, cukup amat padat. Hari kedua, adalah pembukaan resmi konferensi, yang dilanjutkan presentasi partisipan. Sedang hari ketiga, dilanjutkan dengan presentasi ilmiah partisipan dan penutupan. Senin 11 November 2019, acara dimulai pada pukul 08.00 waktu setempat dan dibuka dengan penampilan tarian budaya Vietnam “Dance with Vietnam palm-leaf conical hat – Dance with lullaby Au Lac”, kemudian diresmikan dengan opening remarks oleh Dr. Nguyen Truonh Son (presiden kehormatan AHLA7th, Wakil Menteri Kesehatan Vietnam). Berikutnya, dilanjutkan oleh Dr.Nguyen Minh Quan (President, the 7th AHLA conference), Prof.Peter Chang (President AHLA), Dr. Kristine Sorensen (President, International Health Literacy Association), Dr.Stephen Van de Brouke (Vice President, International Union for Health Promotion and Education), Dr.Yuan-Kun Tu (President, E-Dah Hospital (Host of the 2020 Global Health Literacy Summit Conference), dan Dr.Ying-Wei Wang (Director-General, Health Prmotion Administration). Dalam sambutan-sambutan tersebut, beberapa kutipan menarik yang sempat terekam bahwa “setiap orang, instansi, tidak hanya dokter, juga harus peduli terhadap pengembangan kesehatan yang baik” (Wakil Menteri Kesehatan Vietnam), dan literacy is simple thing, if we good better, but sometimes we don’t know. Health literacy is very important to make a health quality for All. Its about sharing health and happiness, and health literacy is a health global agenda (Presiden AHLA). Literasi kesehatan sendiri telah dipelajari sebagai bagian penting dalam membentuk perilaku kesehatan. Literasi kesehatan didefinisikan sebagai kapasitas individu dan layanan kesehatan dasar guna  mengambil keputusan yang tepat terkait dengan masalah kesehatannya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa literasi kesehatan penting untuk diketahui bersama, dan diterapkan bersama demi kehidupan semua yang baik.

                Acara selanjutnya adalah award ceremony, dengan kategori Global Health Literacy Award, AHLA Network Achievement Awards, dan Yufong International Health Literacy Awards. Satu di antara yang mendapatkan penghargaan adalah Ibu Eni, dari Semarang, Indonesia. Acara dijeda dengan coffe break.  Memasuki acara inti, yakni plenary Session dengan 4 topik menarik yang dibawakan oleh tokoh-tokoh literasi kesehatan, mulai dari Dr. Kristine Serensen dari Global Health Literacy Academic, Denmark dengan topic Integration of Cancer Literacy in National Cancer Control Plans – a Policy Analysis, Health Literacy and Screening in Lung Cancer – time to Start Implementation oleh Dr. John Field (Director of Research –The University of Liverpool, UK), Ultra-deep Massive Parallel Sequencing for detecting and quantifying plasma circulating-tumor DNA: clinical utility and limitation oleh Dr. Nguyen Hoai Nghia (University of Medicine and Pharmacy, HCMC, Vietnam), dan An overview on results of health literacy studies of general population using HLS-EU Instrument in Europe and beyond.

                Acara selanjutnya, yakni presentasi poster yang diikuti oleh 90 partisipan dan sesi oral parallel oleh 105 partisipan dengan topik yang berbeda-beda sesuai dengan tema utama. Acara dilanjutkan di hari ketiga, yakni presentasi oral dan ditutup dengan penyampaian dari international Health Literacy Association (IHLA) mengenai akan diselengarakannya 1st Global Health Literacy Summit 2020 di Kaohsiung, Taiwan dan pengumuman best oral dan poster. Untuk diketahui, Melalui keseluruhan konferensi ini, harapan para partisipan dan penyelenggara semoga dengan ini dapat membentuk praktik yang lebih baik dalam kesehatan masyarakat, baik masyarakatnya yang melek literasi kesehatan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik ke depan.

                Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia, sebagai Organisasi yang berlandasakan penalaran dan pengembangan IPTEK, turut mendukung dan berpartisipasi aktif dalam memahamkan literasi di Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari agenda-agenda MITI KM yang bersama melibatkan UKM Penalaran di kampus-kampus di seluruh Indonesia untuk aktif dalam kepenulisan dan pengembangan inovasi sebagai bentuk kontribusi untuk bangsa dan negara. Literasi kesehatan tidak saja digaungkan oleh praktisi atau yang bergelut di bidang kesehatan, namun setiap profesi diharapkan dapat memahami literasi kesehatan dan memahamkan kepada yang lainnya. Olehnya, secara tidak langsung MITI juga pun dapat mendukung tidak hanya literasi umum, tetapi juga literasi kesehatan demi derajat kesehatan masyarakat yang baik.

                Selaku pengurus MITI KM, pastinya kontribusi setiap personalnya dibutuhkan baik dengan turun langsung di tengah masyarakat, penyebaran informasi bermanfaat di media-media internet dan nyata, menulis, dan bekerja sebaik-baiknya bekerja professional untuk kebaikan semua. Alhamdulillah, bukan tidak sengaja, tapi karena rencana dan rezeki dari Allah SWT dan dukungan orang tua, saya diberikan kesempatan untuk hadir dan duduk mendengar kalimat-kalimat yang membawa ilmu pengetahuan dari orang-orang yang datang dari berbagai negara. Saya tidak sendiri, suatu kesyukuran yang besar atas nikmat ini, bersama 3 teman lainnya yaitu seperti saudari saya Yoslien Sopamena,MD., Yulita Sirinti Pongtambing, B.S., dan Yessy Fitriani, B.S., yang tentunya sangat banyak berperan, serta dosen pembimbing kami yakni Bapak Dien Anshari, BS., MS., Ph.D., yang membantu mewadahi dan membimbing dengan sabar sehingga  kami bisa bersama-sama ikut mengambil ilmu dan bertukar pikiran dalam konferensi tersebut. Kesempatan kami mengikuti konferensi ini ialah berpartisipasi dalam  presentasi poster dengan 2 hasil penelitian mengenai literasi kesehatan di Indonesia tentunya. Tak lupa, teruntuk Direktorat Riset dan Pengabdian masyarakat, Universitas Indonesia (DRPM-UI) yang sudah menjadi penyokong finansial segala proses penelitian kami. Dariku, Terima Kasih sebesar-besarnya Tim dan UI.

                Bagi saya sendiri, agenda ini adalah pengalaman pertama kali mengikuti konferensi dan di luar negeri. Alhamdulillah. Jika boleh berkisah, dulu di tahun 2017 saya mensubmit paper dan lulus untuk mengikuti 2 konferensi sekaligus, yakni oral presentation pada international conference  di Turki, dan national conference di Jakarta. Kedua-duanya mengenai kesehatan dan saya mengangkat topik yang saya sudah sangat tertarik sejak masa S1. Namun, rezeki berkata lain, semuanya membutuhkan biaya yang tak kecil. Saat itu, saya domisili tetap di daerah, Raha,  Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara bersama Kedua Orang Tua. Tanpa rasa kecewa sama sekali, saya hanya berniat, saya masih ingin mencoba untuk ke luar, kalaupun ke luar saya ingin mengikuti kegiatan yang bermanfaat khususnya mengenai penelitian dan pertukaran ide serta ilmu pengetahuan dengan dibiayai gratis. Alhamdulillah alal kulil haq, mimpi tersebut masih berlanjut dan tertulis saat pertama kali mendapatkan rezeki bisa berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

                Allah SWT maha baik, maha bijak pendengar doa. Allah mempunyai rencana dan waktunya sendiri untuk hamba Nya. Maka  Man Sabhara Zafiraa benar-benar Allah buktikan. Namun, dibalik itu juga perlu bersungguh-sungguh dan ikhtiar. Kegiatan ini adalah pengalaman pertama, sebagai pengalaman pertama bagi kami, poster presentation sudah cukup menjadi bahan pembejalaran bagi kami, dan khususnya saya. Jika Allah Swt masih menerima usaha dan doa, semoga masih bisa melakukan penelitian lagi yang bermanfaat dalam kesehatan masyarakat khususnya dan bisa bertukar ilmu pengetahuan, sehingga dinamika lebih terasa di setiap insan yang ingin perubahan lebih baik, demi pencapaian derajat kesehatan masyarakat.

You and I, are  human. We need a better life. So, we need to live healthy. InsyaAllah, we will be happy. Never give up to challenge ourselves.

MAN JADDA WA JADDAH. MAN SHABARA ZAFIRA.

Depok, 20 November 2019

Salam Hangat

Wa Ode Sri Andriani (Arin)

Pengurus MITI KM 2019, Bina Wilayah JABAJA

Mahasiswi Pascasarjana Promosi Kesehatan, Kesehatan Masyarakat, FKM, Universitas Indonesia

Berikut Referensi tentang Konferensi terkait

  • www.7ahla2019.org
  • Global Health Literacy Summit 2020, 26-28 Oktober 2020/ Kaohsing Taiwan (www.ihlasummit2020.org)

Leave a Reply