You are currently viewing Optimalisasi Pendidikan menuju Sustainable Development Goals

Optimalisasi Pendidikan menuju Sustainable Development Goals

SHARE WITH US NEXT LEVEL (NL) – MARET

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa SDGs itu disepakati melalui UN (UNITED NATIONS) untuk mengatasi beberapa persoalan yang secara bersama dihadapi oleh banyak negara di seluruh dunia. Kalau diperhatikan ada 17 target besar yang menjadi sasaran SDGs, semuanya target ambisius. Karena ada banyak target yang akan disasar, sesuai topik awal maka kita fokus membahas SDG bidang pendidikan. Dilihat dari kacamata SDG yang terkait dengan pendidikan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan. Walaupun sebenarnya, untuk konteks Indonesia selain peningkatan kulitas, juga ada dua persoalan lainnya yang harus diselesaikan yakni pemerataan akses pendiidkan dan peningkatan relevansi lulusan.

Mengulas kebeberapa hal kebelakang terlebih dahulu. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat UUD Sisdiknas No 20 tahun 2003 yaitu untuk mengembangkan masyarakat Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa (manusia). Manusia yang mempunyai takwa dan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai budi pekerti yang luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, kesehatan rohani, dan jasmani, keterampilan dan pengetahuan, dan terakhir mempunyai rasa tanggung jawab untuk berbangsa dan bermasyarakat.

Pendidikan kita memiliki jenjang dari jenjang PAUD, SD, Sekolah Menengah Pertama dan Atas, serta Perguruan Tinggi, dengan jalur pendidikan formal, non-formal, dan informal. Tiap jenjang dan jalur memiliki target serta tujuan sendiri-sendiri. Namun, pada prinsipnya bertujuan untuk menyiapkan manusia Indonesia yang merdeka dan dapat menjalani hidup dan kehidupanya. Sayangnya, pendidikan informal ini masih belum mendapatkan fokus yang prima, padahal kalau mau jujur waktu yang paling banyak justru dalam konteks pendidikan informal (keluarga), ini juga harus menjadi perhatian bersama terutama pemerintah.sejauh ini pemerintah sudah banyak fokus peningkatan mutu pendidkan formal, dan beberapa tahun terakhir mulai menseriusi pendidikan non formal, tinggal pendidikan informal yang harus lebih di tingkatkan,dalam seminar pendidikan tahun lalu di fakultas kami, pak mendikbud saat itu (sekarang sudah jadi menko menyampaikan bahwa ketiga jalurnya akan menjadi fokus pemerintah biar berjalan seiring).

Seperti yang saya sampaian di atas, secara umum ada 3 masalah utama pendidikan kita yakni kualitas, pemerataan aksesibilitas, relevansi. Dalam beberapa tahun terakhir masalah pemerataan dan aksesibilitas sudah mulai dikurangi melalui program-program Guru Garis Depan, Indonesia Mengajar, Pendidikan di Daerah Terpencil, Terluar, dan Terdepan.

Misi ini sejelan dengan misi SDG eductioan. Namun, yang masih menjadi pertian bersama adalah akses pendidikan yang inklusif untuk siswa dan mahasiswa berkebutuhan khusus. Itulah mengapa banyak kampus belum bisa akreditasi internasional. Salah satunya karena standar internasional mensyaratkan fasilitas kampus yang ramah mahasiswa berkebutuhan khusus seperti track pengguna kursi roda, akses mahasiswa tuna rungu, tuna daksa, tuna wicara, tuna netra, dll.

Persoalan sekolah inklusif juga masih menjadi PR di indonesia, saya beberapa kali berdiskusi dengan guru-guru SD mereka secara umum tidak mempersoalkan kebijakan sekolah inklusif, namun faktanya infrastruktur sekolah dan daya dukung SDM serta frame masyarakat kita belum cukup, sehingga kalau ada siswa berkebutuhan khusus masuk sekolah umum kecenderungannya tidak dalam suasana yang nyaman, malah beberapa jadi merasa tidak percaya diri, karena lingkungannya memangdang berbeda. Berat memang mengatasi ini semua.

Masalah relevansi lulusan masih jadi konsen pemerintah, saat ini mendikbud punya kebijakan kampus merdeka, merdeka belajar, mhs bisa mengambil mata kuliah diluar prodi bahkan diluar kampus, (kec bidang kesehatan) hanya boleh sesama dunianya (permendikbud no 3 tahun 2020).

sumber: https://lldikti13.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2020/01/Permendikbud-Nomor-3-Tahun-2020.pdf

Intisari dari SDG untuk peningkatan kulitas pendidikan adalah sebagai berikut:

  • Pendidikan sebagai barang publik, barang umum global, hak asasi manusia yang mendasar dan landasan untuk menjamin realisasi hak-hak lain.
  • Agenda Pendidikan 2030, dan studi kasus yang inovatif dan sukses dari seluruh dunia.
  • Relevansi pendidikan yang inklusif dan berkeadilan dan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua (pembelajaran formal, non-formal dan informal, termasuk penggunaan TIK) dan di semua tingkatan untuk meningkatkan kualitas manusia kehidupan dan pembangunan berkelanjutan
  • Alasan kurangnya akses ke pendidikan (mis. Kemiskinan, konflik, bencana, ketidaksetaraan jender, kurangnya masyarakat.
  • Pembiayaan pendidikan, privatisasi yang berkembang).
  • Pencapaian global keterampilan melek huruf, berhitung dan dasar.
  • Keanekaragaman dan pendidikan inklusif.
  • Keterampilan dan kompetensi dasar dibutuhkan di abad ke-21
  • Pengetahuan, nilai, keterampilan, dan perilaku diperlukan untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.
  • Konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, pendekatan seluruh institusi sebagai kunci strategi untuk meningkatkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, dan pedagogi untuk mengembangkan keberlanjutan kompetensi.
  • Pemberdayaan pemuda dan pemberdayaan kelompok-kelompok yang terpinggirkan

Kalau kita mau mengukur kualitas pendidikan indonesia, sebut saja PISA. PISA (Programme for International Student Assessment), studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak. Sebagaimana yang beritakan Detik 2019, Untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, berada di bawah Panama yang memiliki skor rata-rata 377.  Padahal skor rata2 dunia 487, artinya posisi kita pada aspek kemampuan membaca jauh di bawah rata-rata.

Sedangkan, peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555. Posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.Lantas, untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Indonesia berada di atas Arab Saudi yang memiliki skor rata-rata 373. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591.Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Berada di atas Arab Saudi yang memiliki rata-rata skor 386. Peringkat satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.

Sebelumnya, dalam PISA 2015 Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei (bukan 72 karena 2 negara lainnya yakni Malaysia dan Kazakhstan tak memenuhi kualifikasi penelitian). Indonesia masih mengungguli Brazil namun berada di bawah Yordania. Skor rata-rata untuk sains adalah 493, untuk membaca 493 juga, dan untuk matematika 490. Skor Indonesia untuk sains adalah 403, untuk membaca 397, dan untuk matematika 386. (Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4808456/survei-kualitas-pendidikan-pisa-2018-ri-sepuluh-besar-dari-bawah/2)

Kalau kita jujur dalam waktu 3 tahun terakhir rangking PISA kita mengalami penurunan signifikan, tentu kita belum tahu bagaimana pergerakan dari tahun 2018-2021 apakah membaik atau sebaliknya?

Untuk menjawabnya sementara kita bisa pelajari dari kacamata para peneliti,

  1. pertama masalah kemampuan membaca, ada peneliti yang baru saja mempublikasikan papernya berjudul: Permasalahan Budaya Membaca di Indonesia (Studi Pustaka Tentang Problematika & Solusinya), penulis orang kemendikbud dan dosen UNM makasar

sumber : https://ejournal.uksw.edu/scholaria/article/view/2656

hasil kajiannya menyimpulkan bahwa mengapa skor  membaca kita rendah? Karena membaca belum menjadi budaya kita, membaca dalam konteks bacaan informasi bukan sekedar status di sosial media

Untuk menumbuhkan budaya membaca, penulis menyarankan beberapa hal berikut ini:

  1. merumus ulang paradigma pembelajaran membaca, tidak hanya melalui mata pelajaran  bahasa  (Indonesia  dan  Inggris),  tetapi  menyusun  model  pembelajaran  membaca  bagi  seluruh  mata  pelajaran,
  2. perbaikan sarana prasarana perpustakaan sekolah yang diringi perbaikan tata kelola dan program kerja perpustakaan sebagai pusat literasi di semua jenjang sekolah,
  3. meningkatkan kualitas proses pembelajaran melalui penerapan model, metode, strategi, pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran  untuk  mengembangkan  kemampuan  membaca  siswaterutama  pada  jenjang  sekolah dasar,
  4. perbaikan kualitas atas pengajaran membaca di program studi calon guru di lembaga pendidik tenaga kependidikan melalui kegiatan penelitian tentang model, metode, strategi, pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan membaca siswa lalu disosialisasikan melalui  program pengabdian  kepada  masyarakat khususnya  sekolah sekolah
  5. adanya  program kemasyarakatan  atau  komunitas  yang  mendorong  pada  peningkatan  kesadaran  dan peran  serta masyarakat secara menyeluruh tentang pentingnya budaya membaca seperti taman bacaan masyarakat, jam belajar dan sebagainya

Kita memang harus jujur bahwa budaya orang indonesia itu jagonya ngomong dan ngobrol, tapi budaya baca kurang, padahal dalam islam membaca merupakan yang diutamakan. Itulah mengapa informasi hoaks sangat cepat menyebar (laku keras).  Di negara yang sudah melek budaya membaca, akun bayaran penyebar hoaks ga akan laku, karena tidak ada penggemarnya.

Persoalan kedua yakni kemampuan matematika dimana hasil surveinya juga sama tidak terlalu menggembirakan, kalau kita baca beberapa paper hasil para peneliti, dapat kita tarik kesimpulan salah satu persoalan yang ada diantaranya terkait dengan pembiasaan para guru mendesain soal-soal matematika yang diajarkan.

Kebanyakan dari soal yang kita pernah dapatkan lebih ke mengukur kemampuan hapalan, sehingga yang diaktivitasi bukan kemampuan berpikirnya tapi kemampuan mengahapalnya. Tahun lalu saya jadi moderator seminar internasional, ada seorang penyaji yang juga dosen di undiksa menjelaskan bahwa mengapa hasil pisa kita rendah? Karena bentuk soal yang biasa kita berikan bukan bentuk soal yang diujikan oleh PISA.

Contoh soal perkalian sederhana bagi anak SD, untuk mengukur perkalian, penjumlahan biasanya kita langsung memberikan soal, misalnya 3×4? 5×5? 3x4x5?, soal-soal ini merupakan contoh soal untuk mengukur kemampuan hapalan (lower order thinking skill /LOTS). Menurutnya soal yang bagus untuk melatih kemampuan berpikir analisis (HOTs) harusnya dibuat denagn desain yang kontekstual analitik,

Contoh:

Doni mempunyai lima belas teman perempuan di kelasnya, sedangkan jumlah teman laki-lakinya adalah sepertiga jumlah teman perempuannya. Berapa jumlah seluruh teman doni dikelasnya apabila tidak masuk 3 orang?

Contoh soal seperti ini membutuhkan kemampuan berpikir analitik, dan dapat mengaktivasi kemampuan berpikir kritisnya juga. Padahal soal di atas merupakan bentuk perpaduan kemampuan berhitung sederhana. Hanya kita tidak terbiasa membuat desain doal yang seperti itu, alasannya buuth banyak waktu untuk menyusunnya hehe (maaf ya ini klaim saya, berdasarkan curhatan guru2 SD di kelas Open University)

Ketiga mengenai persoalan kinerja sains, mudah-mudahan sejak diberlakukan pembelajaran saintifik di sekolah kabarnya membaik, tapi prinsipnya kembali lagi, ke persoalan sebelumnya, kalau pembelajaran kita masih berfokus pada kemampuan hapalan saja, maka kelihatannya kita akan sulit bersaing untuk mendapatkan rangking PISA yang lebih baik, maka solusi sederhananya adalah kurangi waktu guru ngomong, perbanyak waktu mahasiswa membaca, latih siswa melakukan eksperiment baik pada konteks sosial maupun sain murni.

Sebagai contoh untuk mengajarkan tentang masalah banjir, tidak perlu banyak bicara tentang dampak banjir dan lain-lain, namun ajak siswa untuk meninjau langsung ke sungai yang tercemar sampah, tugaskan untuk melakukan riset sederhana, dengan perhitungan jumlah penduduk, asumsi jumlah sampai yang dibuang sebarangan, lebar sungai, peluang kenaikan volume air ketika sampah mengalir ke sungai, waktu yang dibutuhkan untuk memastikan banjir masuk kerumah-rumah warga. Hal ini jarang dilakukan oleh para guru di sekolah.

Yang terakhir bagaimana dengan peran pendiikan tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan indonesia? Tentu jawaban terbaiknya ada di para pemangku kebijakan. Namun menurut saya, pemerintah sudah berupaya membangun kebijakan-kebijakan yang mendukung pemberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk menikmati pendidikan pada jenjang perguruan tinggi. Misalnya melalui penawaran beasiswa bidikmisi, beasiswa santri, beassiwa afirmasi, beassiwa lpdp, budi dn, budi ln, dan beasiswa lain yang ditawarkan pihak sewasta serta beasiswa dari kampus dan pemerintah asing.

Namun kabar gembiranya per Juli 2019, jumlah publikasina kita mencapai angka 32.975 dan berhasil menempati urutan pertama di ASEAN. Jumlah publikasi akademisi indonesia dapat kita pantau di laman Sinta: http://sinta.ristekbrin.go.id/

Pemateri          : Ence Surahman, S.Pd, M.Pd.

                          (Dosen Univ. Negeri Malang, Ketua MITI KM 2016)

Tema               : Optimalisasi Pendidikan menuju Sustainable Development Goals

Waktu             : Jum’at, 13 Maret 2020

Tempat            : Grup Pengurus dan Anggota MITI KM 2020

Leave a Reply